In Asal Nulis Wisata

GUNUNG GEDE, GUNUNG TERAMAI YANG PERNAH KUDATANGI


Suatu pagi yang pagi banget, aku sudah mandi dan pakai pakaian rapi. Tumben pagi, Fi? Eitss jangan salah, ada empat orang di rumah yang nyalain alarm biar bisa bangun pagi. Apalagi, aku emang berniat mau pergi ke Sukabumi buat mendaki ke Gunung Gede.

Jadi ceritanya, di awal Agustus kemarin aku ikut rombongan salah satu komunitas pendaki gunung yang ada di Bogor. Namanya Sahabat Alam Indonesia (SAI).

Jujur sih, awalnya aku canggung berkomunikasi dengan mereka. Apalagi logat berbicara kami jauh berbeda. Aku dengan logat medok Jawa lokal, sedang mereka dengan logat Sunda Bogor yang kental.

Sebelum berangkat, aku persiapkan dulu peralatan wajib untuk mendaki.
  • Tas/carrier
  • Air mineral
  • Sepatu
  • Lampu kepala
  • Jaket
  • Sarung tangan dan kaos kaki
  • Masker
  • Jas hujan
  • Konsumsi seperlunya
setidaknya peralatan dasar itu yang harus dibawa ketika mendaki gunung. Jaket, masker, sarung tangan, dan kaos kaki, merupakan alat pelindung dari hawa dingin yang kadang diabaikan oleh para pendaki. Padahal peran mereka justru yang paling penting.

Kami berangkat bada Ashar dari terminal Baranangsiang Bogor. Sebenarnya niat awalnya adalah naik kereta api. Sayangnya kami kehabisan tiket. Jadi kami putuskan untuk sewa mobil.

Perjalanan dari Bogor ke Sukabumi dibutuhkan waktu kurang lebih dua jam. 

Ada tiga jalur yang bisa dipilih oleh para pendaki untuk naik ke puncak Gunung Gede. Jalur teramai adalah via Cibodas. Hanya saja, Cibodas memiliki jalur yang cukup panjang. Jika ingin yang lebih pendek, bisa pilih via Putri. Namun, jalur ini lebih menanjak. Sedangkan jalur yang ketiga adalah via Selabintana. Jalur Selabintana jauh lebih panjang dari Cibodas maupun Putri. Kebetulan rombongan kami memilih via Selabintana.

Untuk saat ini, pendaftaran ke Gunung Gede harus dilakukan jauh hari sebelum dimulai pendakian. Sebab, pendaki yang datang makin lama makin banyak. Maka pihak pengelola harus memberi kuota setiap harinya.

Ada biaya Rp25.000 yang dibebankan kepada tiap pendaki sebagai ganti surat kesehatan. Selain itu, ada juga biaya tiket masuk sebesar Rp35.000. Jadi, biaya minimal yang harus disiapkan untuk mendaki ke Gunung Gede via Selabintana adalah Rp60.000. Itu pun belum termasuk transportasi. Jika beruntung mendapat tumpangan, maka transportasi sudah tak perlu dipikirkan lagi. 

Pukul 11.00 WIB, aku bersama 13 teman lainnya dari SAI memulai pendakian. Pertama diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua regu. Kami memanggilnya Bang Doet. Perlu kalian tahu, Bang Doet ini sudah melakukan pendakian puluhan kali. Ke Gunung Gede saja, katanya sudah 16 kali.

Kesan yang kudapatkan ketika melewati jalur Selabintana adalah:
  • Seram
  • Sepi
  • Terjal
Maka seharusnya, bagi pendaki pemula sepertiku, jalur ini sangat tidak disarankan. Hanya ada sedikit pendaki yang kami temui selama perjalanan.



Sepanjang perjalanan, kami tidak menemukan adanya sumber air. Atau, bisa jadi ada, tapi kami melewatinya. Sebab, kami baru menemukannya setelah melakukan 14 jam perjalanan. Itu pun, untuk mendapatkannya, kami harus turun melewati bebatuan yang licin. Apalagi, itu malam hari!

Salah satu yang kusenangi ketika naik gunung adalah 'nilai kebersamaan' yang jarang sekali bisa didapat di tempat lain. Ketika naik gunung, aku bisa lebih cepat mengenali karakter orang sekalipun baru kukenal.

Rombongan kami bertemu dengan rombongan lain yang berjumlah empat orang. Mereka kemudian memutuskan untuk bergabung bersama kami sepanjang perjalanan.

Setelah 16 jam perjalanan, atau sekitar pukul 3 pagi, akhirnya kami sampai di Savana Surya Kencana (biasa disebut Surken). Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sana. Surken merupakan tempat yang paling nyaman untuk mendirikan tenda selama melakukan pendakian ke Gunung Gede. Di Surken juga sangat ramai pendaki. Apalagi, Surken merupakan titik pertemuan jalur Cibodas, Putri, dan Selabintana.



Aku setenda dengan Adang dan Dahla. Sedangkan yang lain mencari pasangan sendiri-sendiri.

Tidur di alam bebas tak seburuk apa yang ada di bayangan setiap orang. Justru ketika tidur di alam bebas, ada kenikmatan sendiri yang tak bisa didapatkan ketika tidur di kasur yang empuk.


Surken itu istimewa. Berbeda dengan savana yang pernah kutemui di gunung-gunung lainnya. Surken merupakan surga bagi bunga-bunga Edeilweiss. Sejauh mata memandang, bunga langka yang dilindungi ini tertanam dengan indah.

Jarak dari Surken ke puncak hanya satu jam. Mulai dari Surken menuju puncak, kita bisa menjumpai pendaki lain dengan jumlah yang sangat banyak. Ada ratusan pendaki yang mengunjungi Gunung Gede setiap harinya.


Puncak Gunung Gede cukup luas. Di dekat Gunung ini, tampak Gunung Pangrango berdiri dengan kokoh. Tak sedikit para pendaki Gunung Gede melanjutkan perjalanan ke Gunung Pangrango.

Salah satu yang mengecewakanku ketika mendaki Gunung Gede adalah jumlah orang yang sangat banyak. Jumlah pendaki selalu melebihi kuota. Karena bukan hanya tiket kereta dan nonton bola saja yang punya calo, tiket masuk pendakian juga ternyata punya. Karena terlalu banyak pendaki, waktu untuk menikmati keindahan puncak jadi terbatas. 

Bukan hal yang mengherankan jika jumlah pendaki Gunung Gede selalu melebihi kuota. Sebab Gunung Gede merupakan salah satu gunung yang paling dekat dengan daerah Jakarta.

Baiklah, itu saja sedikit pengalamanku ketika mendaki Gunung Gede. Saran saja buat kalian yang ingin berkunjung ke sana, jangan coba lewat jalur Selabintana jika merasa masih pemula seperti diriku.

Read More

Share Tweet Pin It +1

12 Comments

In

REVIEW FILM: MUNAFIK 2, FILM HOROR YANG SARAT NILAI AKIDAH



Sejak mendengar film Munafik 2 akan tayang di bioskop Indonesia, aku yang merupakan pecinta film horor langsung mencari semua informasi tentang film produksi Malaysia ini. 

Sempat kecewa karena film ini tidak ditayangkan di Bioskop XXI. Namun setelah berhari-hari memutar otak untuk mencari kendaraan, hari Ahad kemarin akhirnya aku bisa ke CGV Lippo Plaza Bogor untuk menonton film yang dibintangi oleh Syamsul Yusof ini.

Munafik 2 diawali dengan mimpi Ust Adam yang terus saja dibayang-bayangi oleh kematian Maria. Suasana kengerian sudah dibangun sejak awal film diputar. Ini berbeda dengan film horor pada umumnya yang terkesan garing dan biasa saja di awal.

Adam berusaha menghidar dari bayangan kematian Maria dengan cara apapun.

Sebagai seorang Ustad, salah satu tugas Adam adalah mengajak seluruh umat untuk mengerjakan kebaikan. Walau begitu, Adam masih terus belajar untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sementara itu, di desa seberang, seorang manusia bernama Abuja mengajak seluruh umat untuk mengikuti ajaran sesatnya. Siapa saja yang menentang dirinya, akan dibunuh dan dibakar hidup-hidup. Bagi wanita akan dijadikan sebagai pemuas nafsu. Abuja menyebarkan kesesatan dengan mengatasnamakan Allah, Alquran, dan Sunnah Rasul. Padahal sebenarnya, dia bekerja sama dengan iblis.

Abuja mungkin adalah sosok Firaun atau Namrud zaman sekarang yang ingin ditampilkan oleh sutradara film.

Puncak cerita mulai terjadi setelah Adam membantu Sakinah yang terus saja dikejar oleh Abuja agar mengikuti ajarannya. Sakinah merupakan anak dari seorang pemuka agama di desanya yang bernama Imam Malik. Baik Sakinah maupun Imam Malik, mereka adalah orang yang menolak keras ajakan Abuja.

Kehidupan Adam mulai dihantui oleh iblis-iblis Abuja. Sihir Abuja terus saja mengelabuhi Adam hingga akhirnya menewaskan orang tersayang bagi Adam.

Sama seperti Munafik 1, jumpscare di Munafik 2 disajikan dengan sangat tepat. Tak ada yang berlebihan. 

Menonton Munafik 2 bisa mengingatkan kita pada perjuangan Rasul dalam menyebarkan kebaikan. Tak ada yang pantas ditakuti kecuali Allah. Walau nyawa taruhannya, selagi benar, Allah pasti akan menunjukkan kuasa-Nya. 

Penilaian untuk film Munafik 2:



Read More

Share Tweet Pin It +1

12 Comments

In

PENGALAMAN PERTAMA BERWISATA KE JAKARTA


Pernah nggak sih kalian diajak jalan-jalan sama orang ke tempat yang nggak pernah kalian bayangin?

Kalau pernah, selamat ... bisa jadi anda juga orang yang kampungan sepertiku.

Tepat pada awal Desember 2017 kemarin, salah satu Sekolah Alam di Bogor menghubungiku untuk menjadi pengajar di tempat mereka. Sebelumnya, aku tidak pernah mengirimkan berkas lamaran pada sekolah itu. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba aku mendapat tawaran berharga tersebut.

Beberapa hari setelah mendapat tawaran, aku pun mendatangi sekolah itu. Oleh mereka, aku diwawancarai lama sekali. Ternyata mereka tak keberatan menerima diriku yang hanya lulusan SMA. Bagi mereka, yang terpenting adalah aku bisa dekat dengan anak-anak di sekolah alam tersebut.

Selesai wawancara, kepala sekolah mengajakku keliling untuk melihat keadaan sekolah. Cukup bagus kurasa. Memiliki kolam renang dan taman untuk edukasi siswa. Di tengah perjalanan, beliau mengajakku untuk ikut serta menemani siswa ke Taman Mini Indonesia Indah beberapa hari mendatang.

Ke Jakarta? Ini pasti mimpi! 
Berkali-kali aku meyakinkan diri sendiri kalau ajakan itu hanyalah khayalan. Sejujurnya, aku belum pernah berwisata ke Jakarta. Bahkan, membayangkan saja tak berani. Selama ini, mainku hanya terbatas di sekeliling Jombang, Malang, Surabaya, dan sekitarnya.

Setelah menyadari bahwa itu bukan mimpi, dengan tegas aku menerima ajakan tersebut. Namun kepala sekolah menghimbau agar para guru tak memakai sandal pada acara tersebut.

Sepatu dari mana yang akan aku pakai?
Antara bimbang dan cemas. Aku bahkan ingin membatalkan ajakan kepala sekolah hanya karena tak memiliki sepatu. Padahal, sebenarnya aku sangat ingin turut serta pergi ke Jakarta.

Beruntung, aku tinggal bersama teman-teman yang sangat dermawan. Sepatu mereka kupinjam untuk perjalanan ke TMII.

Hari Minggunya, aku bersama para guru lainnya berkumpul di sekolah. Sebuah mobil berwarna silver sudah menunggu di halaman sekolah.

Oh tidak! Naik mobil? Sudah pasti mabuk ini aku!
Jantung semakin berdetak kencang. Antara takut, malu, dan bingung. Keringat dinginku mulai keluar di setiap bagian tubuh.

Satu per satu siswa mulai memasuki mobil. Aku memilih masuk paling terakhir agar bisa duduk di dekat pintu. Tujuannya supaya bisa membuka kaca jendela. Namun urung, sebab salah satu guru menyuruh agar seluruh kaca mobil dalam keadaan tertutup. Jika dibuka, maka AC tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Oh tidak! Mati aku!!!
Sepanjang perjalanan, aku mencoba menahan pengapnya udara di dalam mobil. Berusaha memejamkan mata, namun kondisi saat itu benar-benar tak nyaman. Perut rasanya seperti diaduk-aduk. 

Beberapa siswa mengajakku berkenalan. Dengan bersikap setenang mungkin, aku berusaha menjawab setiap percakapan mereka. 

Dua jam kemudian, kami sampai di area Taman Mini Indonesia Indah. Sesegera mungkin aku membuka pintu mobil. Aah .... rasanya seperti mimpi bisa merasakan udara segar kembali. Aku kemudian berlari mencari toilet. Semua isi di dalam perut, aku keluarkan. Dengan pandangan yang dipenuhi bintang-bintang, tanganku mencoba membuka kran air guna mencuci muka. Ucapan syukur tak henti-hentinya kupanjatkan.

Aku melihat para guru dan siswa tengah berkumpul untuk mengadakan breefing. Salah satu siswa kulihat berlarian enggan mendengarkan nasihat dari kepala sekolah.  

Tujuan pertama kami adalah melihat miniatur Provinsi Sumatera Barat. Satu guru mendapat tugas untuk memandu satu siswa. Aku mendapat tugas untuk memandu seorang siswa kelas dua bernama Kevin.

Tugasku mengenalkan kepada Kevin nama-nama senjata yang ada di Sumatera Barat, pakaian adat Sumatera Barat, peralatan rumah tangga, dan beberapa yang khas lainnya.

Sumatera Barat memiliki rumah adat yang khas. Berbeda dari yang lain. Saat itu, aku benar-benar merasa sedang berada di kawasan sebenarnya. Di dalam anjungan, dipajang juga beberapa pakaian adat. Tak lupa, pihak TMII juga memperdengarkan musik khas Minang.

Tujuan kedua adalah museum air tawar yang kemudian dilanjutkan ke museum serangga dan kupu-kupu.

Subhanallah ... ikannya besar-besar! Belum pernah aku melihat ikan sebesar itu. Tak hanya ikan, di museum air tawar, ada juga hewan-hewan unik lainnya. Ada hewan yang tubuhnya mirip dengan belut, namun hidungnya seperti babi. Sampai sekarang aku lupa, hewan apa ya itu?

Di museum serangga dan kupu-kupu, aku berasa seperti di film-film dongeng. Kupu-kupa yang jumlahnya sangat banyak terbang bebas di sampingku. Indah sekali.

Aku benar-benar bahagia hari itu. Allah memberiku kesempatan gratis untuk ikut serta berwisata ke Jakarta. Walau memang sifat kampung masih melekat pada diriku.

Pukul tiga sore, kepala sekolah mengakhiri kegiatan kami. Salah seorang guru memimpin doa. Selepas itu, kami kemudian bergantian menuju mobil.

Oh tidak .... naik mobil lagi?

Read More

Share Tweet Pin It +1

14 Comments